Amazon Deals

Kamis, 13 Oktober 2011

Kesehatan Reproduksi Remaja


Kesehatan Reproduksi adalah termasuk salah satu dari sekian banyak problem remaja yang perlu mendapat perhatian bagi semua kalangan, baik orang tua, guru, dan maupun konselor sekolah. Mengingat belakangan ini perilaku & pergaulan remaja dengan lawan jenisnya (pacaran) telah mengarah pada perilaku seks dan mengabaikan substansi dalam menjalin hubungan, yang pada dasarnya adalah sebagai ruang belajar dalam bersosialisasi, komunikasi, mengungkapkan emosi, dan berkomitmen.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh SMA Negeri 2 Denpasar kerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, World Population Foundation (WPF), lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang berkantor pusat di Belanda, dan Kita Sayang Remaja (Kisara) Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Bali pada April 2007 yang lalu, diperoleh informasi bahwa dari 766 responden terdapat 526 responden yang menyatakan mereka telah melakukan aktivitas seksual seperti pelukan, 458 responden sudah berciuman bibir, 202 responden sudah pernah mencium leher (necking), disusul 138 responden sudah menggesek-gesekkan alat kelamin tanpa berhubungan seks (petting), 103 responden sudah pernah hubungan seksual, dan 159 menyatakan aktivitas seksual lain selain yang disebutkan tadi.
Hasil penelitian Persatuan Keluarga Berencana Indonesia pada tahun 2002 diperoleh informasi bahwa minimnya pengetahuan remaja mengenahi kesehatan reproduksi remaja dapat menjerumuskan remaja pada perilaku seks pra nikah dan sebaliknya, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja dapat menunda prilaku seks pra nikah dikalangan remaja. Sementara itu hasil penelitian Soetjiningsih terhadap 398 siswa SMA di Yogyakarta menunjukkan bahwa dari 84% siswa yang tidak setuju dengan perilaku seks pra nikah, 95% dari mereka menyatakan pernah mendapat pendidikan yang berkaitan dengan seksualitas, dan mereka (94.80%) juga setuju dengan pemberian pendidikan seks bagi kalangan remaja dan figure yang dianggap cocok memberikan pendidikan seks adalah dokter, psikolog dan seksolog.Berangkat dari fakta diatas maka sangat dianggap penting untuk memberikan materi KESPRO kepada peserta didik.
Tujuan
Siswa dapat memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki wawasan mengenai fungsi, peran, serta sistem reproduksi remaja.
Target
Siswa memiliki kesadaran pentingnya menjaga kesehatan reproduksi serta memiliki keberanian dalam mengkomunikasikan masalah-masalah yang berkaitan dengan reproduksi kepada orang tua dan guru pembimbing di sekolah.
Cara Pelaksanaan Kegiatan
Materi diberikan dalam bentuk ceramah dan diskusi agar dapat terjalin komunikasi dan diperoleh informasi yang akurat mengenai masalah-masalah kesehatan reproduski remaja yang sedang dialami oleh siswa-siswi. Adapun langkah-langkah dalam pelaksanaan program ini adalah sebagai berikut:
1) Penyampaian materi dan diskusi.
2) Melakukan evaluasi, untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang telah diberikan.
3) Meminta siswa untuk melaporkan masalah KESPRO yang sedang dialami dalam bentuk tulisan.
4) Melakukan konseling kepada siswa yang mempunyai permasalahan KESPRO.
Materi
Materi yang akan disampaikan terdiri dari beberapa sub pokok bahasan, sebagai berikut: Pengertian kesehatan reproduksi remaja, tumbuh kembang remaja, pacaran sehat, penyakit menular seksual.

DAFTAR PUSTAKA
Qomariyah, 2002. Siti Nurul, Ringkasan Penelitian Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Dikalangan Siswa SMP, dalam http://www.bkkbn.com, diakses 22 Oktober 2008.
Soetjiningsih, 2008, Remaja Usia 15 – 18 Tahun Banyak Lakukan Perilaku Seksual Pranikah, dalam http://www.gadjahmada.edu.
http://www.resep.web.id. (Menyuguhkan informasi seputar tips-tips untuk menjaga kesehatan reproduksi).

Forum KesPro Mahasiswa "HEART"

Minggu, 01 Juni 2008 ·

HEART (Health Education Of Reproductive Teenagers) ad/ suatu forum yang concern terhadap persoalan kesehatan reproduksi khususnya kesehatan reproduksi remaja dan mahasiswa. Terbentuk pada tanggal 3 Maret 2008 di Balai Pelatihan Kesehatan (BAPELKES) yang merupakan hasil kerjasama antara Himpunan Mahasiswa Epidemiologi (HIMAPID) FKM Unhas dengan Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN) dan Ford Foundation (ff).
Latar Belakang terbentuknya adalah karena Masih tingginya Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja di Indonesia, dibuktikan dengan penelitian dari PKBI di 5 kota besar di Indonesia yang melibatkan sekitar 2.479 siswa SMU dan Mahasiswa sebagai responden yang berusia antara 15-24 tahun sekitar 64,44% sudah pernah melakukan perilaku seksual pra nikah. Hal ini disebabkan masih tidak memadainya pengetahuan mereka tentang kespro serta pengaruh pergaulan di tempat kost- kostan mereka.(Yahya, 2001).
Pemerhati Kespro Mahasiswa di Tingkatan Fakultas dan Universitas Belum ada.
Ada bentuk Kerjasama yang baik antara Ford Foundation, Jaringan Epidemiologi Nasional (JEN), Jurusan Epidemiologi untuk Melakukan Penelitian PRA Kesehatan Reproduksi
Oleh karena itu, kami dari TIM KesPro Mahasiswa ingin mencoba mengaplikasikan hasil pelatihan yang diberikan JEN dengan mengadakan penelitian PRA KesPro dengan melibatkan mahasiswa FKM Unhas menjadi obyek penelitian tersebut. Untuk ikut berperan aktif mewujudkan kesehatan reproduksi yang baik bagi mahasiswa.
Tujuannya
Tujuan Umum
Mengetahui faktor risiko dan besarnya kesadaran Akan pentingnya Kesehatan Reproduksi di kalangan Mahasiswa Unhas
Tujuan Khusus
1. Mengetahui tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku seksual dikalangan mahasiswa Unhas
2. Mensosialisasikan pentingnya Kespro dikalangan Mahasiswa Unhas
3. Menumbuhkan kesadaran & partisipasi Mahasiswa untuk menangani Kesehatan Reproduksi.
4. Melakukan proses regenerasi untuk pengembangan Kespro Mahasiswa di Unha

Isu Kesehatan Reproduksi Remaja

Isu remaja merupakan masalah yang menarik untuk dibahas, karena data menunjukkan kurang lebih 37 % dari jumlah penduduk di Indonesia adalah remaja, masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, mempunyai kesempatan dan risiko terhadap kesehatan reproduksinya.
Remaja, seiring dengan perkembangannya mulai berekplorasi dengan diri, nilai-nilai identitas peran dan perilakunya.Dalam masalah seksualitas sering kali remaja bingung dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Ketika remajamemasuki masa puber, remaja mengalami perubahan fisik yang cepat, dan sudah memiliki kemampuan reproduksi.
Tetapi justru banyak fenomena yang memperlihatkan sebagian remaja belum mengetahui dan memahami tentang , menstruasi, kehamilan yang tidak diinginkan, Infeksi Menular
Seksual (IMS) hingga HIV/AIDS, dan banyak berkembang mitos-mitos seputar seks dan HIV/AIDS.
Remaja adalah sumberdaya manusia yang berpotensi tinggi, kesadaran mereka tentang kesehatan reproduksi penting untuk ditumbuhkan.
Remaja dan kesehatan reproduksi sangat penting dibahas. Pertama kita melihat risiko dan konsekuensi yang mungkin terjadi. Risiko yang dihadapi seperti kehamilan tidak diinginkan (KTD), IMS termasuk HIV/AIDS, kekerasan seksual dan kegiatan seksual yang tidak diinginkan. Sedang konsekuensi yang harus ditanggung adalah dari segi medis, psikologis, sosial dan ekonomis. Isu remaja merupakan masalah yang menarik untuk dibahas, karena data menunjukkan kurang
lebih 37 % dari jumlah penduduk di Indonesiaaadalah remaja, masa remaja adalah masa transisi dari anak-anak menuju dewasa, mempunyai kesempatan dan risiko terhadap kesehatan reproduksinya.
Remaja, seiring dengan perkembangannya mulai berekplorasi dengan diri, nilai-nilai identitas peran dan perilakunya.
Dalam masalah seksualitas sering kali remaja bingung dengan perubahan yang terjadi pada dirinya. Ketika remaja memasuki masa puber, remaja mengalami perubahan fisik yang cepat, dan sudah memiliki kemampuan reproduksi. Tetapi justru banyak fenomena yang memperlihatkan sebagian remaja belum mengetahui dan memahami tentang kesehatan reproduksinya, misal tentang masa subur, menstruasi, kehamilan yang tidak diinginkan, Infeksi Menular Seksual (IMS) hingga HIV/AIDS, dan banyak berkembang mitos-mitos seputar seks dan HIV/AIDS.
Remaja adalah sumber daya manusia yang berpotensi tinggi, kesadaran mereka tentang kesehatan reproduksi penting untuk ditumbuhkan.
Remaja dan kesehatan reproduksi sangat penting dibahas. Pertama kita melihat risiko dan konsekuensi yang mungkin terjadi. Risiko yang dihadapi seperti kehamilan tidak diinginkan (KTD), IMS termasuk HIV/AIDS, kekerasan seksual dan kegiatan seksual yang tidak diinginkan. Sedang konsekuensi yang harus ditanggung adalah dari segi medis, psikologis,sosial dan ekonomis.
Pengertian kesehatan reproduksi yang dirumuskan oleh Konferensi Internasional Kependudukan dan Pembangunan (ICDP) di Kairo tahun 1994 adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh, dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta proses-prosesnya. Pengertian sehat bukan semata-mata sebagai pengertian kedokteran (klinis), tetapi juga sebagai pengertian sosial. Seseorang dikatakan sehat tidak hanya memiliki tubuh dan jiwa yang sehat, tetapi juga dapat bermasyarakat secara baik. Kesehatan reproduksi bukan hanya masalah seseorang saja, tetapi juga menjadi kepedulian keluarga dan masyarakat.

Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual


Dear remaja...
Pada kesempatan yang lalu kita share info organ reproduksi dan organ seksual... Kali ini saya ingin share info tentang Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual...
Setelah penjelasan yang lalu tentang organ reproduksi dan organ seksual, temen - temen jangan sampe salah lagi nie...
Informasi ini didapat sewaktu beberapa relawan mengikuti Training IPP di Ciloto.

Apa sih bedanya Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual...??
Kesehatan Reprodusi
  • Kesehatan yangberkaitan dengan menghasilkan keturunan
  • Kesehatan reproduksi meliputi keadaan sehat jasmani
Pengertian Kesehatan Reproduksi menurut Konferensi Kependudukan dan Pembangunan (ICPD) tahun 1994 di Kairo, Mesir : yaitu "Kondisi utuh sehat sejahtera fisik, mental dan sosial, tidak hanya bebas penyakit atau kecacatan, dalam sistem, fungsi, dan proses reproduksi".

Kesehatan Seksual

Menurut WHO, Kesehatan Seksual adalah "Kombinasi dari bagian kegiatan seksual yang bersifat fisik, emosional, intelektual dan sosial, sehingga seks adalah pengalaman positif yang dapat meningkatkan kualitas hidup, menjadikan lingkungan kita lebih baik untuk kehidupan.
Berdasarkan hasil Deklarasi Montreal 2005 tentang Kesehatan Seksual untuk MDGs, lebih menekankan kepada beberapa hal sebagai berikut :
  • Mengakui, mempromosikan, meyakinkan dan melindungi hak-hak seksual bagi semua
  • Berkembang ke arah kesetaraan jender
  • Menghapuskan semua jenis kekerasan dan pelecehan seksual
  • Memberikan akses universal unutk pendidikan dan informasi tentang seksualitas yang menyeluruh
  • Menjamin bahwa program - program kesehatan reproduktif mengakui betapa pentingnya kesehatan seksual
  • Menghentikan dan mengendalikan penyebaran HIV dan AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) lainnya
  • Mengidentifikasi, menangani dan mengatasi keluhan disfungsi dan gangguan seksual
  • Mendapatkan pengakuanbahwa kenikmatan seksual merupan salah satu unsur kesejahteraan menusia
Masalah - Masalah Kesehatan Reproduksi dan Kesehatan Seksual
  1. Disfungasi Seksual
  2. Parafilia
  3. Perilaku Seksual Kompulsif
  4. Kekerasan Seksual
  5. Permasalahan Reproduksi
  6. Lain - lain
So,,, Gimana sih ciri - ciri orang yangsehat secara reproduksi dan seksual...???


Seseorang dapat dikatakan sehat secara reproduksi dan seksual ketika :
  1. Orang yang memiliki pengetahuan reproduksi dan seksual
  2. Orang yangtahu bagaimana menghindari IMS dan mencari pengobatannya apabila terinfeksi
  3. Orang yang tahu bagaimana merencanakan anak dan menghindari kehamilan yang tidak diinginkan
  4. Orang yang mengelola hubungan seksual, sehingga kebutuhan terpenuhi tanpa membahayakan pasangannya
  5. Orang yang menciptakan komunitas yanglebih sehat dan bahagia

Moga informasi ini bisa bermanfaat,,, untuk temen - temen yang bertugas sebagai PE, moga gak salah lagi dalam menyampaikan perbedaan antara reproduksi dan seksual, baik secara kesehatannya maupun oragan reproduksinya...

Kesehatan Reproduksi Remaja


 


Kesehatan Reproduksi adalah keadaan sehat baik secara fisik, mental, maupun sosial yang berkaitan dengan sistem reproduksi. Sistem Reproduksi terdiri dari alat-alat reproduksi laki-laki dan perempuan serta fungsinya. Reproduksi sehat berkaitan dengan pengetahuaan, sikap, dan perilaku seseorang berkaitan dengan alat reproduksi dan fungsi-fungsinya serta gangguan-gangguan yang mungkin timbul. Erat kaitannya dengan reproduksi adalah seksualitas.

Seks bebas atau dalam bahasa populernya disebut extra-marital intercouse atau kinky-seks merupakan bentuk pembebasan seks yang di pandang tidak wajar. Tidak terkecuali bukan saja oleh agama dan negara, tetapi juga oleh filsafat. Ironinya perilaku itu nyatanya cenderung disukai oleh anak muda, terutama kalangan remaja yang secara bio-psikologis sedang tumbuh menuju proses pematangan. Pada tahap ini remaja biasanya lemah dan penggunaan alat panaptikon dirinya, yakni lemah dalam penggunaan nilai-nilai, norma dan kepercayaan, atau dalam perspektif Freudian disebut superego, maka kecenderungan yang ada mereka lebih suka bertindak ceroboh, trial dan error. Hanya sekedar memenuhi tabiat aktualisasi sin yang berlebihan, ia rela mengorbankan moralitasnya untuk memenuhi kehendak mendapatkan pujian dari kelompok referensinya. Di sinilah pentingnya pendidikan seks yang lebih transparan dan bertanggung jawab, untuk menghindari munculnya bentuk pembebasan seks liberal di luar kendali superego

Pengetahuan dasar yang harus diberikan dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi yaitu :
1. Pengenalan mengenai sistem, proses, dan fungsi alat reproduksi (aspek tumbuh kembang remaja)
2. Mengapa remaja perlu mendewasakan usia kawin serta bagaimana merencanakan kehamilan agar sesuai dengan keinginannya dan pasangannya
3. Penyakit Menular Seksual (PMS) dan HIV/AIDS serta dampaknya terhadap kondisi kesehatan reproduksi
4. Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi
5. Pengaruh social dan media terhadap perilaku seksual
6. Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya
7. Mengembangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat kepercayaan diri agar mampu menangkal hal-hal yang bersifat negatif
8. Hak-hak reproduksi

Setiap orang lahir membawa hak reproduksi dan seksual yang harus dihormati secara universal. Hak-hak reproduksi dan seksual remaja terdiri dari :
- Hak untuk menjadi diri-sendiri Yaitu membuat keputusan, mengekspresikan diri, menjadi aman, menikmati seksualitas dan memutuskan apakah akan menikah atau tidak.
- Hak untuk tahu Mengenai hak reproduksi dan seksual, kesehatan reproduksi dan seksual, termasuk kontrasepsi, Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS, serta anemia.
- Hak untuk dilindungi dan melindungi diri Dari kehamilan yang tidak direncanakan, aborsi tidak aman, IMS dan HIV/AIDS dan kekerasan seksual.
- Hak mendapatkan pelayanan kesehatan Secara bersahabat, menyenangkan, akurat, berkualitas dan dengan menghormati hak remaja.
- Hak untuk terlibat Terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi program remaja, serta mempengaruhi pemerintah dalam pembuatan kebijakan.

 Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbaga faktor yang ada disekitarnya. Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggungjawab mengenai proses reproduksi. Setidaknya pendidikan tentang kesehatan reproduksi itu sendiri sudah diberikan sejak kecil.
Di Indonesia masyarakat tidak dibiasakan mendapatkan pendidikan seks sejak kecil. Pendidikan seks yang diberikan secara tiba-tiba setelah mereka besar tidak akan efektif. Kebanyakan orangtua mengajari anaknya mengenal anggota tubuh, tetapi payudara dan alat kelamin tidak pernah disebutkan karena masih dianggap tabu. Padahal sejak lahir anak-anak telah memiliki alat seksualitas yang melekat pada diri mereka. Apabila sejak kecil pikiran anak telah dirancang dengan baik dan stabil, mereka akan mudah menerima pendidikan kesehatan reproduksi. Makin beragamnya sumber-sumber informasi seks tidak menjamin bahwa kecenderungan perilaku seks remaja akan menurun. Namun karena isi informasi yang disampaikan masih bersifat remang-remang dan tidak jelas, maka justru berdampak paradoksal. Bukan munculnya perilaku seks remaja yang makin bijak, tetapi sebaliknya malah mempertinggi kecenderungan perilaku seks bebas. Perilaku seksual adalah perilaku yang muncul karena dorongan seksual. Perilaku seksual bermacam-macam mulai dari berpegangan tangan, pelukan, kissing, necking, petting dan sampai intercourse. Perilaku seksual diibaratkan seperti bola salju yang sekali dilepaskan dari atas bukit akan semakin membesar terus dan susah untuk dihentikan. Begitulah fenomena yang terjadi pada remaja saat ini, pacaran dimulai dengan perilaku yang sederhana seperti pegangan tangan sampai pada yang kompleks seperti intercourse yang tidak mereka sadari. Ibarat ketika perilaku pegangan tangan sudah tidak bisa mentoleransi gaya pacaran mereka, mereka akan berlanjut ke perilaku ciuman dan tidak mustahil mereka baru menyadari jika mereka sudah melakukan hubungan seksual

 Berbicara tentang seks tidak akan terlepas dari Narkoba dan Miras, karena ketiganya sangat berhubungan sekali dan biasa disebut “Triangle”. Banyak yang mengira jika menggunakan narkoba akan meningkatkan fungsi seksual, padahal itu semua tidak benar. Banyak warga masyarakat yang telah tertipu oleh informasi yang salah yang sangat mungkin disebarkan oleh para pedagang narkoba. Begitu pula dengan yang mengkonsumsi minuman keras. Mereka akan mengira dengan minum miras akan meningkatkan gairah seksual mereka, padahal yang sebenarnya terjadi sebaliknya pengaruh dari miras tersebut hanya sesaat saja dan tidak meningkatkan gairah seksual diri mereka.

KONSEP KESEHATAN REPRODUKSI


Pekanbaru(infobidannia), Kesehatan Reproduksi adalah: Suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari suatu penyakit atau kecacatan dalam semua hal yang berkaitan dengan sistem reproduksi serta fungsi dan prosesnya
Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi
1.      Kesehatan ibu dan bayi baru lahir: Perkembangan organ-organ reproduksi sejak dalam kandungan, bayi, remaja, WUS, klimakterium,menopause hingga meninggal Kondisi kesehatan ibu hamil berpengaruh pada kondisi bayi termasuk kondisi organ reproduksinya

2.      Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi termasuk PMS-HIV/AIDS
3.      Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi
4.      Kesehatan reproduksi Remaja: Perlu pendidikan kesehatan reproduksi sehubungan dengan menarche, perilaku seksual, PMS, kehamilan yang tidak diinginkan

5.      Pencegahan dan penanggulangan infertilitas
6.      Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis
7.      Berbagai aspek kesehatan reproduksi lainnya seperti kanker serviks, mutilasi genitalfistula dll
Pelayanan Kesehatan Reproduksi Esensial (PKRE)
1.      Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2.      Keluarga berencana
3.      Kesehatan reproduksi Remaja
4.      Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi termasuk PMS-HIV/AIDS
Pelayanan Kesehatan Reproduksi Komprehensif (PKRK)
1.      Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2.      Keluarga berencana
3.      Kesehatan reproduksi Remaja
4.      Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi termasuk PMS-HIV/AIDS
 
Hak-hak reproduksi
Tujuan : mewujudkan kesehatan bagi individu secara utuhbaik jasmani maupun rohani
  1. Hak mendapatkan informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
  2. Hak mendapatkan pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
  3. Hak kebebasan berfikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi
  4. Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan
  5. Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak
  6. Hak atas kebebasan dan keamanan berkaitan dengan  kehidupan reproduksinya
  7. Hak untuk bebas dari penganiyaan dan perlakuan buruk termasuk dari perkosaan, kekerasan, penyiksaan dan pelecehan seksual
  8. Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu berkaitan dengan  kesehatan reproduksi
  9. Hak atas pelayanan dan kehidupan reproduksinya
10.  Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga
11.  Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan reproduksi
12.  Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam dalam politik yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi
Kebijakan Teknis
  1. Promosi hak- hak reproduksi
  • Menganalisis perundang-undangan, peraturan yang berlaku , apa sudah seiring dan mendukung hak-hak reproduksi sesuai kondisi lokal sosial budaya di masyarakat
  • Perlu dukungan politik dan legislatif
2. Advokasi hak-hak reproduksi
  • Tujuan mendapatkan dukungan komitmen dari tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat, LSM, LSOM dan swasta
  • Dukungan swasta dan LSM dibutuhkan karena ruang gerak pemerintah terbatas
  • Dukungan para tokoh dibutuhkan untuk memperlancar terciptanya pemenuhan hak-hak reproduksi
3. KIE hak-hak reproduksi
  • Diharapkan masyarakat emakin mengerti sehingga dapat mewujudkannya
4. Sistem pelayanan hak-hak reproduksi

kesehatan rahim dan vagina

Tips Menjaga Kesehatan Reproduksi & Cara Mengetahui Kesehatan Vagina Kita

Di zaman yang sudah moderen ini, masih saja banyak perempuan yang mengalami masalah pada organ reproduksinya seperti infeksi saluran reproduksi atau infeksi menular seksual, keputihan, kanker serviks, kanker rahim dan penyakit-penyakit serius lainya. Hal ini tentu tidak terlepas dari ketidaktahuan dan ketidakpedulian masyarakat mengenai kesehatan reproduksi. Melalui artikel ini kami berharap ke depannya ada peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi dan dapat menyampaikan informasi ini kepada keluarga dan teman-teman terdekat.

Mitos Seputar Menstruasi

Mitos seringkali dipercaya, berkembang dalam masyarakat dengan penyampaian informasi yang kurang tepat, kurang lengkap dan bahkan terlalu berlebihan.  Hal ini menimbulkan sikap antipati, defensif bahkan diskriminasi pada situasi tertentu.  Sesudah mitos seputar seksualitas, selaput dara, ternyata mitos mengenai menstruasi juga beredar dalam masyarakat dan turun-temurun diberitahukan.

Kondom Mencegah Penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) Termasuk HIV & AIDS

Hubungan seksual yang berisiko tinggi merupakan penyebab utama penularan Infeksi Menular Seksual (IMS), seperti penyakit klamidia, gonore, kutil kelamin, herpes sifilis termasuk HIV&AIDS. Terkait hal ini, pemerintah dan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan penggunaan alat pelindung saat berhubungan seksual. Kondom adalah satu-satunya alat pelindung yang telah terbukti dapat mengurangi risiko IMS termasuk HIV & AIDS.
Ke